Tata Cara Sholat Jumat Serta Syarat, Hukum, Keutamaan, dan Sunnah Sholat Jumat

Tata Cara Sholat Jumat Serta Syarat, Hukum, Keutamaan, dan Sunnah Sholat Jumat

Tata Cara Sholat Jumat Serta Syarat, Hukum, Keutamaan, dan Sunnah Sholat Jumat

Sholat Jumat - Merupakan salah satu sholat wajib bagi para laki-laki muslim. Oleh karena itu bagi kamu yang merasa seorang muslim sejati, maka seharunya mengetahui apa saja yang berhubungan dengan sholat jumat itu sendiri. Oleh karena itu mari kita bareng-bareng memperdalam ilmu tentang islam, khususnya sholat jumat.

Tata Cara Sholat Jumat Serta Syarat, Hukum, Keutamaan, dan Sunnah Sholat Jumat

1. Syarat Wajib Sholat Jumat

          Orang-orang yang wajib mengerjakan sholat Jum’at adalah orang-orang yang telah memenuhi 7 syarat berikut:
  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Laki-laki
  6. Sehat badan
  7. Menetap (bukan musafir, tidak dalam perjalanan jauh).

          Sedangkan orang-orang yang tidak wajib mengerjakan sholat Jum’at adalah :
  1. Orang kafir
  2. Anak kecil (yang belum baligh)
  3. Orang gila
  4. Budak
  5. Orang perempuan
  6. Musafir A. Arti Definisi / Pergertian Sholat Jumat

          Sholat Jum’at adalah ibadah salat yang dikerjakan di hari jum’at dua rakaat secara berjamaah dan dilaksanakan setelah khutbah.
Sholat Jumat
Sholat Jumat

2. Hukum Sholat Jumat

          Sholah Jum’at memiliki hukum wajib ‘ain bagi laki-laki / pria dewasa beragama islam, merdeka dan menetap di dalam negeri atau tempat tertentu. Jadi bagi para wanita / perempuan, anak-anak, orang sakit dan budak, solat jumat tidaklah wajib hukumnya. 

          Dalil Al-qur’an Surah Al Jum’ah ayat 9 :
”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

3. Syarat Sah Melaksanakan Sholat Jumat

  1. Sholat jumat diadakan di tempat yang memang diperuntukkan untuk sholat jumat. Tidak perlu mengadakan pelaksanaan solat jum’at di tempat sementara seperti tanah kosong, ladang, kebun, dll.
  2. Minimal jumlah jamaah peserta salat jum’at adalah 40 orang.
  3. Sholat Jum’at dilaksanakan pada waktu sholat dhuhur / zuhur dan setelah dua khutbah dari khatib.

4. Ketentuan Sholat Jumat

          Sholat jumat memiliki isi kegiatan sebagai berikut :
  1. Mengucapkan hamdalah.
  2. Mengucapkan shalawat Rasulullah SAW.
  3. Mengucapkan dua kalimat syahadat.
  4. Memberikan nasihat kepada para jamaah.
  5. Membaca ayat-ayat suci Al-quran.
  6. Membaca doa.

5. Hikmah Sholat Jumat

  1. Simbol persatuan sesama Umat Islam dengan berkumpul bersama, beribadah bersama dengan barisan shaf yang rapat dan rapi.
  2. Untuk menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar sesama manusia. Semua sama antara yang miskin, kaya, tua, muda, pintar, bodoh, dan lain sebagainya.
  3. Menurut hadis, doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT akan dikabulkan.
  4. Sebagai syiar Islam.

6. Sunat-Sunat Sholat Jumat

  1. Mandi sebelum datang ke tempat pelaksanaan sholat jum at.
  2. Memakai pakaian yang baik (diutamakan putih) dan berhias dengan rapi seperti bersisir, mencukur kumis dan memotong kuku.
  3. Memakai pengaharum / pewangi (non alkohol).
  4. Menyegerakan datang ke tempat salat jumat.
  5. Memperbanyak doa dan salawat nabi.
  6. Membaca Alquran dan zikir sebelum khutbah jumat dimulai.

7. Syarat Khutbah Sholat Jumat

  1. Khutbah dilakukan sebelum salat Jum’at
  2. Niat 
  3. Disampaikan dengan bahasa yang bisa dipaham oleh Jamaah.
  4. Antara khutbah satu dan khutbah dua dilakukan dalam satu waktu. (antara keduanya tidak boleh dipisahkan dengan salat Jum’at ). 
  5. Disampaikan dengan suara yang bisa didengar oleh jamaah, minimal sejumlah orang yang wajib dipenuhi sebagai syarat sahnya salat Jum’at, 40 orang.
  6. Salat Jum’at segera dilakukan begitu khutbah usai, tidak boleh diselingi dengan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pelaksanaan salat Jum’at. 

8. Rukun Khutbah Sholat Jumat

  1. Memuji kepada Allah (Dengan membaca: “al-hamdulillah, atau, ahmadullah, atau hamdan lillah, dan sesamanya”) dalam setiap khutbah pertama dan kedua.
  2. Membaca salawat untuk Nabi Muhammad saw dalam setiap khutbah, satu dan dua (salawatnya: “Allahumma sholli ‘ala Muhammad, dan atau semacamnya”)
  3. Berwasiat untuk melakukan ketakwaan dalam setiap khutbah (pesannya: “ittaqullah, atau athi’ullah, atau ushikum bitaqwallah, dan atau semisalnya”)
  4. Membaca satu atau sebagian ayat al-Qur`an.
  5. Doa untuk kebaikan dan ampunan bagi orang-orang beriman pada khutbah kedua.

          Rukun di atas adalah rukun khutbah dalam Mazhab Syafi’i. Menurut mazhab ini, semua rukun tersebut harus disampaikan dalam bahasa Arab, adapun pesan-pesan lain yang tidak termasuk rukun bisa disampaikan dengan bahasa yang dipahami oleh jamaah. Adapun Mazhab-mazhab lainnya adalah sebagai berikut:

1. Mazhab Hanafi, rukun khutbah adalah satu hal, yaitu dzikir secara mutlak, baik panjang maupun pendek. Menurut Mazhab ini bahkan bacaan tahmid, atau tasbih, atau tahlil, sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban khutbah. Mazhab ini berpendapat bahwa khutbah bisa disampaikan dalam bahasa apa saja, tidak harus bahasa Arab.

2. Mazhab Maliki, rukun khutbah menurut mazhab ini adalah satu hal, yaitu ungkapan yang memuat kabar gembira (dengan janji-janji pahala dari Tuhan) atau peringatan (bagi orang-orang yang suka melanggar aturan Tuhan). Mazhab ini berpendapat bahwa keseluruhan khutbah harus disampaikan dalam bahasa Arab. Jika tidak ada yang mampu menggunakan bahasa Arab maka kewajiban salat Jum’at gugur untuk dilaksanakan. 

3. Mazhab Hanbali, rukun khutbah menurut mazhab ini ada empat hal, yaitu: 
    a. Bacaan “alhamdulillah” dalam setiap khutbah, satu dan dua. 
    b. Salawat atas Nabi Muhammad. 
    c. Membaca satu atau sebagian ayat al-Qur’an. 
    d. Wasiat untuk melakukan ketakwaan. 

Mazhab ini juga berpendapat bahwa khutbah harus disampaikan dalam bahasa Arab bagi yang mampu. Bagi yang tak bisa berbahasa Arab maka menggunakan bahasa yang dimampui, khusus untuk ayat al-Qur`an tidak boleh digantikan dengan bahasa lain. Demikian, rincian syarat dan rukun khutbah menurut mazhab-mazhab besar yang banyak berlaku. Memang hampir tidak ada perbedaan antara khutbah dengan ceramah yang biasa dilakukan para dai. Yang membedakan hanya waktu penyampaiannya. Wa ‘l-Lah-u a’lam. Demikian, semoga membantu.
Buka Komentar