Hukum Isti'adzah dan Basmalah Sebelum Membaca Al Quran

Hukum Isti'adzah dan Basmalah - Sebagai umat islam, kita dianjurkan untuk membaca kitab suci al-Qur'an yang menjadi pedoman dan sumber ilmu bagi seluruh umat manusia. Dalam membaca al-Qur'an kita harus mempelajari ilmu tajwidnya agar terhindar dari kesalahan dalam membaca.

Nah pada kesempatan kali ini, kita akan membahas ilmu tajwid tentang Isti'adzah dan Basmalah. Baik membahas lafadz nya, hukum nya, dan cara-cara membacanya. Berikut kami paparkan secara rinci beserta beberapa contohnya.

Hukum Isti'adzah dan Basmalah Sebelum Membaca Al Quran

Yang dimaksud dengan isti 'adzah adalah membaca
Lafadz  Isti'adzah
Lafadz  Isti'adzah
Hukum membaca isti'adzah sebelum memulai tilawah adalah sunnah. Firman Allah Swt:

"Apabila kamu hendak membaca Alquran maka berlindunglah kepada Allah dari syetan yang terkutuk. "(QS. 16:98)

Lafadz isti’adzah di atas, dapat pula ditambahkan dengan kata السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ setelah kata بِا للهِ sehingga berbunyi menjadi:

Adapun membaca basmalah sangat dianjurkan (mustahabbah), baik di awal surat atau pertengahan surat -kecuali pada surat At Taubah - baik dilakukan dengan suara keras atau pelan. Sebagian ulama Qira'at memberinya hukum Wajib Sina"i, artinya kewajiban yang apabila ditinggalkan tidak berdosa. Istilah tersebut digunakan karena Rasulullah sangat menganjurkan membaca basmalah, sebagaimana di dalam sabdanya:

"Setiap perkara yang mempunyai nilai yang tidak dimulai dengan basmalah maka terputuslah (barokahnya)"

Cara membaca Isti’adzah, Basmalah dan Awal surat. Ada empat cara

1.Qot’ul Jami’I Artinya membaca isti’adzah, basmalah dan surat secara terpisah, misalnya:

2.Washlul Jami’I Artinya membaca Isti’adzah, Basmalah dan surat secara bersambung, misalnya:

3.Qot’ul awali wa washlutsani bitsalis Artinya membaca Isti’adzah secara terpisah dengan basmalah dan surat, misalnya:

4.Washlul awali bitsalis artinya menyambung Isti’adzah dan Basmalah sementara suratnya secara terpisah, misalnya:

Cara menyambung Basmalah diantara dua surat, terdapat tiga cara

1.Qot’ul Jami’I artinya membaca akhir surat, basalah dan surat yang kedua secara terpisah, misalnya:

2.Washlul Jami’i artinya membaca surat, basmalah dan surat yang baru secara bersambung, misalnya:

Adapun menyambungkan surat Al Anfal dan At Taubah boleh secara terpisah, bersambung dan terpisah tanpa nafas (dengan cara saktah).

3.Qot’ul awali wa washlutsazi bitsalis artinya berhenti ketika selesai membaca surat, kemudian membaca basmalah disambung denan surat yang baru, misalnya:

Adapun menyambung akhir surat dengan basmalah, kemudian berhenti dan memulai surat yang baru adalah satu cara yang tidak dibenarkan, karena terkesan basmalah itu bagian dari surat secara keseluruhannya. Contoh:

Keutamaan Membaca Isti'adzah

Imam Ibnul Qoyim menjelaskan beberapa hal mengapa Allah SWT menganjurkan kepada setiap pembaca Alquran untuk beristi'adzah atau memohon pelindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk:

1. Alquran adalah obat untuk penyakit-penyakit hati. Allah SWT berflrman:

"Wahai manusia, telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. 10:57)

Maka, ketika Allah memerintahkan kepada kita beristi'adzah, maksudnya adalah agar Alquran benar-benar kita fungsikan sebagai syifa' bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada-tanpa dipengaruhi oleh setan. Karena jika tidak, ada kemungkinan Alquran tidak lagi menjadi obat yang mujarab yang dapat menyembuhkan.

2. Setan diciptakan dari api yang bisa membakar apa saja. Sedangkan Alquran adalah dzat yang dapat membawa hidayah, pengetahuan dan siraman bagi hati. Karena itu Allah menyuruh beristi'adzah agar setan tidak mampu membakar sekaligus sebagai peredam.

3. Sesungguhnya malaikat selalu mendekati pembaca Alquran dan mendengarkannya, sebagaimana pernah terjadi pada Usaid bin Hudhair, ketika membaca Alquran ia melihat semacam awan yang di dalamnya terdapat lampu-lampu mendekatinya. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah SAW, beliau menyatakan bahwa itu adalah malaikat (Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim). Oleh karena itulah Allah menyuruh beristi'adzah agar terhindar dari kehadiran setan namun selalu dihadiri malaikat.

4. Allah SWT menjelaskan bahwa setan dan bala tentaranya selalu berusaha memalingkan manusia dari mengingat Allah. Ketika seseorang membaca Alquran, setan terus mengganggunya dan mencegahnya dari mentadabburi Alquran. Allah berfirman:

"Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah pada mereka, dan tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipu daya belaka.” {OSA7:6A)

5. Dalam hadits dijelaskan bahwa Allah sangat bersemangat mendengarkan tilawah Alquran dari hamba-hamba-Nya. Sabda Rasulullah,

"Sesungguhnya Allah lebih bersemangat mendengarkan seorang laki-laki yang bagus bacaan Alqurannya meleblhi (semangat) seseorang yang cinta nyanyian ketika mendengarkan nyanyiannya."

Setan sangat suka mendengarkan alunan-alunan musik yang membuai. Maka dengan isti'adzah, insya Allah dapat menghindarkan pembaca dari kehadiran setan, dan sebaliknya kehadiran Allah.

6. Setan mempunyai sifat ingin mencegah siapa saja yang ingin berbuat amal saleh, termasuk orang yang ingin atau sedang membaca Alquran. Bahkan Nabi pun digodanya. Beliau pernah bersabda:

"Sesungguhnya setan tadi malam menggodaku dan hendak membatalkan shalatku."

Oleh karena itu, semakin besar nilai yang kita kerjakan semakin besar pula usaha setan untuk mencegahnya, maka dengan isti'adzah seorang pembaca terjauhkan dari godaan setan.

SIlahkan berkomentar yang bijak
EmoticonEmoticon